Selasa, 12 Januari 2010

Automatically Switched Optical Networks

Teknologi Automatic Switching Optical Network (ASON) merupakan platform teknologi yang dirancang untuk menjawab tantangan di atas yang merepresentasikan kebutuhan kapasitas, reliabilitas dan kualitas pada jaringan berbasis optik. ASON bukanlah suatu protokol atau set protokol, tetapi merupakan suatu arsitekur yang mendefinisikan komponen-komponen pada optical control plane serta hubungan interaksi antara komponen-komponen tersebut. ASON menggambarkan suatu arsitektur pengendalian dan manajemen untuk mendukung fungsi kerja jaringan switch otomatis berbasis transport optik.
1. Definisi ASON
ASON adalah suatu framework sekaligus juga suatu teknologi kapabilitas. Sebagai suatu framework, ASON mendeskripsikan suatu arsitektur manajemen dan kontrol untuk suatu jaringan transport optik dengan switching otomatis. Sebagai suatu teknologi, ASON mengacu pada protokol-protokol routing dan signaling yang berlaku untuk suatu jaringan optik, yang memungkinkan untuk path setup secara dinamis dan otomatis pada suatu transport services, sesuai dengan permintaan user akan layanan, signalling protocol create, restorasi dan teardown. Dari dua definisi di atas dapat dikatakan ASON merupakan suatu jaringan transport berbasis optik yang memiliki kemampuan pembentukan koneksi secara dinamis (dynamic connection). Kemampuan tersebut disempurnakan dengan menggunakan suatu control plane untuk melakukan fungsi call & connection.Suatu koneksi diswitch melalui sistem manajemen menggunakan network generated signalling dan protokol routing untuk menetapkan koneksi itu. Pada ASON masingmasing network node dilengkapi dengan controlkoneksi dan memungkinkan restorasi bila koneksi tersebut mengalami kegagalan. ITU-T telah merekomendasikan G.8080 tentang komponen control plane yang digunakan pada transport network meliputi fungsi set up, signalling dan release koneksi.
Teknologi ASON saat ini dikembangkan dengan dua pendekatan, yaitu:
- Berbasis VC-4 (SDH based)
- Berbasis Lambda (DWDM based)

2. Standar Control Plane
Suatu batas internetworking antara electrical layer service networks dan high-speed optical switched core diperlukan untuk mencapai kapabilitas signaling dan routing untuk provisioning yang lebih cepat. Model internetworking dalam hal ini dideskripsikan terdiri dari devais electrical layer (seperti router IP, IP edge devices, SDH switches, dll) yang dipasang pada optical core network dan dikoneksikan melalui switched link connection yang dibentuk secara dinamis dan didukung oleh implementasi control plane.

Terdapat 3 lembaga internasional yang mengembangkan standar control plane untuk teknologi tansport optik masa depan. ITU (International Telecommunications Union) mengembangakan arsitektur ASON (Automatic Switched Optical Netowrk) pada control plane, IETF (Internet Engineering Task Force) mengembangkan GMPLS (Generalized Multi Protocol Label Switching) sebagai kelanjutan dari teknologi sebelumnya yaitu MPLS (Multi Protocol Label Switching), serta OIF (Optical Internetworking Forum).

3. Prospek Kelayakan ASON
Kekurangan utama pada jaringan optik saat ini yaitu:
- Provioning jaringan yang cenderung manual
- Waktu provisioning yang lama
- Tidak efisien dalam utilisasi resource jaringan
- Kesulitan dalam kesinambungan pengoperasian antara jaringan paket-switched pada klien dan circuit-switched pada jaringan optik
- Kompleksitas network management
- Ketidaksinambungan dengan berbagai vendor yang berbeda
- Kurang handalnya sistem proteksi pada jaringan mesh
Dengan hadirnya ASON, beberapa keunggulan yang ditawarkan yaitu:
- Proses provisioning yang cepat
- Kemudahan dalam pengoperasian jaringan
- High availability, dengan kemampuan multiple protection
- High flexibility dalam penggunaan rute
- High scalability, tiap node bisa upgrade secara mandiri (tidak mempengaruhi node lain)
- Efisien dalam penggunaan bandwidth
- Biaya pemeliharaan yang rendah
- Mendukung beberapa macam Service Level Agreement (SLA)
4. Arsitektur ASON
Aristektur ASON dibagi ke dalam tiga bagian (plane), yaitu; transport plane, control plane dan management plane.
a. Transport Plane
Transport Plane dikenal juga sebagai data plane, dimana merepresentasikan pemanfaatan resource jaringan untuk menyampaikan suatu informasi antar user. Transfer informasi tersebut dapat merupakan bidirectional atau unidirectional. Transport plane juga dapat melakukan fungsi transfer informasi untuk control dan management system. Transport plane direpresentasikan dengan suatu komponen jaringan yang meliputi baik transport entities dan transport processing function, mulai dari proses generation, transport dan terminating signal dengan format yang spesifik yang ditransfer melalui suatu koneksi jaringan. Komponen jaringan tersebut yaitu IP, ATM, SDH, atau OTN.
Direpresentasikan dengan elemen jaringan, dengan kemampuan:
- Menyediakan kemampuan cross connect dalam jaringan
- Mengakomodasi teknologi eksisting (SDH) atau teknologi Optical Transport Network (OTN)
b. Control Plane
Control plane meliputi proses signaling, ruting dan manajemen link. Signaling melakukan proses pembangunan, pemutusan dan memodifikasi koneksi. Selain itu signaling juga diperlukan untuk proses restorasi koneksi secara otomatis saat terjadi failure pada jaringan.Ruting merupakan proses pemilihan rute yang akan dilalui dalam suatu jaringan. Dengan ruting seluruh topologi jaringan akan terlihat jelas, sehingga pemilihan jalur ruting yang efektif akan lebih mudah untuk dilakukan. Sedangkan manajemen link bertugas untuk melakukan verifikasi konektivitas link dan korelasi properti yang dimiliki tiap link. Control plane mendukung layanan koneksi melalui suatu proses provisioning otomatis antara end-to-end transport connection antar domain. Kemampuan control plane pada ASON berjalan secara otomatis sesuai dengan tingkat kepintaran dari jaringan yang dibangun.
Direpresentasikan dengan Optical
Connection Controller (OCC), dan melakukan fungsi sebagai berikut:
i. Signalling
- Membangun, release dan melakukan modifikasi koneksi (Membangun koneksi Primer dan Sekunder).
- Melakukan restorasi koneksi secara otomatis pada saat terjadi failure
ii. Routing
- Melakukan pertukaran/perubahan topologi, konfigurasi resource dan informasi status
- Melakukan komputasi rute berdasarkan user requirement
iii. Management Link
- Melakukan verifikasi konektivitas link dan korelasi properti yang dimiliki link

Automatically Switched Optical Networks

Teknologi Automatic Switching Optical Network (ASON) merupakan platform teknologi yang dirancang untuk menjawab tantangan di atas yang merepresentasikan kebutuhan kapasitas, reliabilitas dan kualitas pada jaringan berbasis optik. ASON bukanlah suatu protokol atau set protokol, tetapi merupakan suatu arsitekur yang mendefinisikan komponen-komponen pada optical control plane serta hubungan interaksi antara komponen-komponen tersebut. ASON menggambarkan suatu arsitektur pengendalian dan manajemen untuk mendukung fungsi kerja jaringan switch otomatis berbasis transport optik.
1. Definisi ASON
ASON adalah suatu framework sekaligus juga suatu teknologi kapabilitas. Sebagai suatu framework, ASON mendeskripsikan suatu arsitektur manajemen dan kontrol untuk suatu jaringan transport optik dengan switching otomatis. Sebagai suatu teknologi, ASON mengacu pada protokol-protokol routing dan signaling yang berlaku untuk suatu jaringan optik, yang memungkinkan untuk path setup secara dinamis dan otomatis pada suatu transport services, sesuai dengan permintaan user akan layanan, signalling protocol create, restorasi dan teardown. Dari dua definisi di atas dapat dikatakan ASON merupakan suatu jaringan transport berbasis optik yang memiliki kemampuan pembentukan koneksi secara dinamis (dynamic connection). Kemampuan tersebut disempurnakan dengan menggunakan suatu control plane untuk melakukan fungsi call & connection.Suatu koneksi diswitch melalui sistem manajemen menggunakan network generated signalling dan protokol routing untuk menetapkan koneksi itu. Pada ASON masingmasing network node dilengkapi dengan controlkoneksi dan memungkinkan restorasi bila koneksi tersebut mengalami kegagalan. ITU-T telah merekomendasikan G.8080 tentang komponen control plane yang digunakan pada transport network meliputi fungsi set up, signalling dan release koneksi.
Teknologi ASON saat ini dikembangkan dengan dua pendekatan, yaitu:
- Berbasis VC-4 (SDH based)
- Berbasis Lambda (DWDM based)

2. Standar Control Plane
Suatu batas internetworking antara electrical layer service networks dan high-speed optical switched core diperlukan untuk mencapai kapabilitas signaling dan routing untuk provisioning yang lebih cepat. Model internetworking dalam hal ini dideskripsikan terdiri dari devais electrical layer (seperti router IP, IP edge devices, SDH switches, dll) yang dipasang pada optical core network dan dikoneksikan melalui switched link connection yang dibentuk secara dinamis dan didukung oleh implementasi control plane.

Terdapat 3 lembaga internasional yang mengembangkan standar control plane untuk teknologi tansport optik masa depan. ITU (International Telecommunications Union) mengembangakan arsitektur ASON (Automatic Switched Optical Netowrk) pada control plane, IETF (Internet Engineering Task Force) mengembangkan GMPLS (Generalized Multi Protocol Label Switching) sebagai kelanjutan dari teknologi sebelumnya yaitu MPLS (Multi Protocol Label Switching), serta OIF (Optical Internetworking Forum).

3. Prospek Kelayakan ASON
Kekurangan utama pada jaringan optik saat ini yaitu:
- Provioning jaringan yang cenderung manual
- Waktu provisioning yang lama
- Tidak efisien dalam utilisasi resource jaringan
- Kesulitan dalam kesinambungan pengoperasian antara jaringan paket-switched pada klien dan circuit-switched pada jaringan optik
- Kompleksitas network management
- Ketidaksinambungan dengan berbagai vendor yang berbeda
- Kurang handalnya sistem proteksi pada jaringan mesh
Dengan hadirnya ASON, beberapa keunggulan yang ditawarkan yaitu:
- Proses provisioning yang cepat
- Kemudahan dalam pengoperasian jaringan
- High availability, dengan kemampuan multiple protection
- High flexibility dalam penggunaan rute
- High scalability, tiap node bisa upgrade secara mandiri (tidak mempengaruhi node lain)
- Efisien dalam penggunaan bandwidth
- Biaya pemeliharaan yang rendah
- Mendukung beberapa macam Service Level Agreement (SLA)
4. Arsitektur ASON
Aristektur ASON dibagi ke dalam tiga bagian (plane), yaitu; transport plane, control plane dan management plane.
a. Transport Plane
Transport Plane dikenal juga sebagai data plane, dimana merepresentasikan pemanfaatan resource jaringan untuk menyampaikan suatu informasi antar user. Transfer informasi tersebut dapat merupakan bidirectional atau unidirectional. Transport plane juga dapat melakukan fungsi transfer informasi untuk control dan management system. Transport plane direpresentasikan dengan suatu komponen jaringan yang meliputi baik transport entities dan transport processing function, mulai dari proses generation, transport dan terminating signal dengan format yang spesifik yang ditransfer melalui suatu koneksi jaringan. Komponen jaringan tersebut yaitu IP, ATM, SDH, atau OTN.
Direpresentasikan dengan elemen jaringan, dengan kemampuan:
- Menyediakan kemampuan cross connect dalam jaringan
- Mengakomodasi teknologi eksisting (SDH) atau teknologi Optical Transport Network (OTN)
b. Control Plane
Control plane meliputi proses signaling, ruting dan manajemen link. Signaling melakukan proses pembangunan, pemutusan dan memodifikasi koneksi. Selain itu signaling juga diperlukan untuk proses restorasi koneksi secara otomatis saat terjadi failure pada jaringan.Ruting merupakan proses pemilihan rute yang akan dilalui dalam suatu jaringan. Dengan ruting seluruh topologi jaringan akan terlihat jelas, sehingga pemilihan jalur ruting yang efektif akan lebih mudah untuk dilakukan. Sedangkan manajemen link bertugas untuk melakukan verifikasi konektivitas link dan korelasi properti yang dimiliki tiap link. Control plane mendukung layanan koneksi melalui suatu proses provisioning otomatis antara end-to-end transport connection antar domain. Kemampuan control plane pada ASON berjalan secara otomatis sesuai dengan tingkat kepintaran dari jaringan yang dibangun.
Direpresentasikan dengan Optical
Connection Controller (OCC), dan melakukan fungsi sebagai berikut:
i. Signalling
- Membangun, release dan melakukan modifikasi koneksi (Membangun koneksi Primer dan Sekunder).
- Melakukan restorasi koneksi secara otomatis pada saat terjadi failure
ii. Routing
- Melakukan pertukaran/perubahan topologi, konfigurasi resource dan informasi status
- Melakukan komputasi rute berdasarkan user requirement
iii. Management Link
- Melakukan verifikasi konektivitas link dan korelasi properti yang dimiliki link

Televisi Satelit

Televisi satelit pada dasarnya ditujukan kepada penggunaan satelit untuk menyiarkan program TV dari broadcasting centre ke daerah geografis yang besar. Televisi satelit menggunakan satelit GEO sebagai point – to- multipoint repeater yang menerima beberapa siaran televisi dari broadcasting centre (uplink) dan mengirimkan kembali (downlink) ke operator TV kabel, home dish dan lain – lain, yang letaknya didalam footprint satelit itu sendiri. Satelit dapat menyediakan acara TV secara langsung dari satelit ke pengguna (DTH television) atau secara tidak langsung dengan bantuan jaringan kabel atau jaringan broadcast teresterial, dimana satelit memberikan sinyal ke sentral operator dan mengirimkan kembali kepada pengguna yang menggunakan jaringan kabel atau melalui jaringan broadcast teresterial. Untuk layanan DTH yang termasuk kategori receive – only, antena receiver ditempatkan di pengguna untuk menerima acara TV secara langsung dari satelit.
Direct-to-Home Satellite Television
Direct-to-Home (DTH) Satellite Television ditujukan untuk penerimaan ecara langsung program atau siaran TV satelit oleh pengguna langsung darisatelit ke pengguna (pesawat televisi) melalui antena penerima yang mereka miliki sendiri. Layanan DTH dapat diklasifikasikan ke dalam 2 jenis yaitu Television receive-only (TVRO) dan layanan Direct Broadcast Satellite (DBS), tergantung pada band frekuensi yang disediakan dan ukuran dari antenna penerimanya. TVRO bekerja pada frekuensi C-Band dan DBS bekerja pada frekuensi Ku-Band. Gambar konfigurasi DTH dapat dilihat pada gambar di bawah ini.
Gambar 2.1 Direct to home satellite television [6]
Direct Broadcast Satellite (DBS) Service
Direct Broadcasting Satellite (DBS) Service adalah suatu layanan yang menggunakan satelit untuk memancarkan bermacam-macam kanal dari program televisi satelit agar langsung diterima pesawat televisi (melalui antenna). Seluruh acara televisi satelit dikompres secara digital pada broadcasting centre untuk ditransmisikan ke satelit DBS yang selanjutnya satelit ini akan memancarkan kembali siaran yang diterimanya ke bumi sehingga bisa ditangkap langsung oleh home dish yang berada dalam coverage – nya.

Teknologi Wimax

WiMAX atau Worldwide Interoperability for Microwave Access merupakan salah satu perkembangan teknologi terbaru di bidang Broadband Wireless Access (BWA) setelah sebelumnya telah hadir WiFi dan system selular seperti GPRS, EDGE, 3G dan 3,5G. Teknologi WiMAX ini memiliki kemampuan untuk diselenggarakan sendiri, selain itu juga memiliki kemampuan untuk melengkapi dan memaksimalkan teknologi BWA yang sudah ada seperti WiFi ataupun selular.
WiMAX Standards (IEEE 802.16)
Ada 3 varian utama, bisa dilihat pada tabel berikut:


Arsitektur WiMAX
1. Arsitektur mobile WiMAX network
Ada 3 komponen utama dalam arsitektur mobile WiMAX menurut WiMAX forum, yaitu user terminal, ASN dan CSN sebagai berikut:

2. Arsitektur penyelenggaraan WiMAX
Ada 3 skenario utama, yaitu poin to point, point to multipoint, dan mesh, sbb:


3. Arsitektur Protokol mobile WiMAX
Mobile WiMAX Network Architecture yang ditetapkan oleh WiMAX Forum diatas yang terdiri dari User Terminal,ASN,dan CSN terdiri dari layer-layer protokol seperti yang ditunjukan pada gambar dibawah ini:

Beberapa protokol yang terlibat sebagai berikut:
1. IPv6 dan IPv6CS
Merupakan protokol yang dikembangkan dari IPv4, memiliki panjang alamat sebesar 128bit untuk menyampaikan paket ke alamat yang tepat. Sedangkan IPv6CS merupakan IPv6 yang digunakan untuk membentuk hubungan antara satu komponen jaringan dengan yang lain secara connection oriented.
2. MAC
Berfungsi untuk mengatur akses untuk radio channel melalui pembentukan suatu frame-frame.
3. PHY
Berfungsi untuk menghubungkan media fisik antara satu komponen jaringan dengan yang lain, transmisi bit-bit, serta pemrosesan sinyal
4. GRE (Generic Routing Encapsulation)
Merupakan protokol yang digunakan untuk tunneling, digunakan untuk membawa paket IPv6 antara BS dan AR/ASN-GW.

Smart Antena

Smart antenna merupakan kombinasi dari beberapa susunan elemen antenna dengan kemampuan pengolahan sinyal untuk mengoptimalkan daya pancar sesuai dengan respon linkungan sinyal tersebut. Sistem ini telah digunakan untuk keperluan militer,seperti: sistem radar untuk melacak sasaran. Dan juga diteliti untuk keperluan telekomuniksi bergerak dalam hal penentuan posisi MS. Adapun hal utama yang membuat suatu sistem antenna menjadi smart, yaitu kemampuan untuk mengestimasi sudut kedatangan sinyal, Angel of Arrival (AOA). Untuk analisis dan simulasi pada tugas akhir ini akan menggunakan algoritma MUSIC untuk penentuan AOA dan teknik eigen untuk beamforming-nya.

Susunan Antena

Susunan antena berfungsi sebagai penangkap sinyal datang, dimana tiap elemen menangkap sinyal yang sama, tetapi dengan perbeadaan fasa yang disebabkan adanya jarak antar elemen antenna. Perbedaan fasa inilah yang menandakan AOA sinyal datang. Sinyal yang ditangkap pada tiap antenna ini nantinya akan diolah untuk mencari AOA.

Teknik-teknik estimasi DOA

Teknik-teknik yang digunakan untuk estimasi AOA antara lain: teknik konvensional, teknik berbasis Subspace, teknik maximum likelihood, dan teknik terintegrasi. Teknik konvensional berdasar pada beamforming klasik di mana teknik ini memerlukan jumlah elemen antenna yang cukup banyak untuk mendapatkan resolusi yang tinggi. Teknik berbasis subspace adalah suatu teknik beresolusi tinggi yang memanfaatkan struktur eigen pada input data matrix. Teknik maximum likelihood adalah sutu teknik yang optimal, dimana teknik ini memberikan kinerja yang baik meskipun berada pada kondisi SNR yand rendah. Teknik terintegrasi adalah suatu teknik yang memisahkan multiple signal dan mengestimasi AOA dengan memanfaatkan teknik subspace. Algoritma MUSIC sebagai salah satu teknik estimasi AOA yang berbasis subspace. Algoritma MUSIC pertama kali diperkenalkan oleh Schmidt pada tahun 1979, yang merupakan teknik klasifikasi beberapa sinyal resolusi tinggi yang didasarkan pada pemanfaatan struktur eigen dari matriks input kovarians.

Kamis, 07 Januari 2010

ANALISIS PERHITUNGAN INDOOR LINK BUDGET MULTI NETWORK DI ITC ROXY MAS

Perkembangan teknologi telekomunikasi seluler dari generasi pertama, kedua dan ketiga, memacu operator telekomunikasi di Indonesia khususnya PT. Indosat, Tbk membangun jaringan baru untuk memenuhi kebutuhan pelanggan. Perkembangan teknologi telekomunikasi terbaru dapat memberikan kemampuan akses data yang cepat selain suara dan Short Message Service (SMS). Memanfaatkan jaringan infrastruktur seluler Global System for Mobile Telecommunication (GSM) yang ada khususnya jaringan di dalam gedung (indoor), untuk diintegrasikan dengan satu sistem jaringan baru (3G) yang disebut multi network. Jadi inti dari sistem multi network ini adalah memanfaatkan sistem jaringan seluler yang sudah ada dan digabungkan dengan sistem baru.
Pada tugas akhir akan dibahas kondisi infrastruktur jaringan yang sudah ada apakah dapat diintegrasikan dengan sistem baru (3G), dengan melakukan perhitungan Link Budget untuk sistem yang ada (GSM dan CDMA) maupun 3G, kemudian dianalisis dengan membandingkan hasil perhitungan tersebut dengan data yang di dapat dari PT. Indosat, Tbk maupun data yang didapat dari hasil pengukuran yang dilakukan sendiri.
Pada perhitungan kuat sinyal dibawah antena yang dilakukan dan dibandingkan dengan hasil pengukuran yang dilakukan didapat distribusi jaringan antenna pada lantai dasar dan basement tidak berfungsi dengan baik dengan perbedaan nilai RxLev dibawah antena antara perhitungan dan pengukuran lebih dari -40 dBm. Dengan nilai EIRP tertinggi yang didapat adalah 21,04 dBm pada antena A-L5-2 dan terendah sebesar 15,37 dBm pada antena A-L3-1. Sedangkan pada sistem GSM 1800 dan CDMA hanya beberapa titik antena saja yang menunjukkan hasil yang baik, antara lain antena A-L5-1, A-L4-3, A-L4-2, A-L4-1, A-L3-1, A-L1-1 dan A-LB-1. Dengan nilai EIRP tertinggi pada GSM 1800 adalah 21,41 dBm, terendah 13,18 dBm. Pada CDMA didapat nilai EIRP tertinggi 21,32 dBm, terendah 12,99 dBm. Dari antenna yang ada sudah mencupi untuk kebutuhan coverage sistem 3G, sehingga sistem tersebut dapat diintegrasikan dengan mengoptimalkan equipment yang sudah ada.

BAB 1
PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang Masalah
Seiring dengan meningkatnya pengguna telepon seluler dan bertambahnya gedung-gedung bertingkat di Jakarta seperti gedung-gedung perkantoran, hotel, apartemen, pusat perbelanjaan, dan rumah sakit, maka operator seluler di Indonesia khususnya PT. Indosat, tbk membangun dan menambah jumlah Base Transceiver Station (BTS) baik BTS makro dan mikro di wilayah sekitar yang trafiknya padat bertujuan untuk meningkatkan kualitas dan kinerja cakupan jaringan. Tanpa peningkatan kinerja, jaringan akan mengalami penurunan dari segi kualitas panggilan
Menyediakan cakupan yang baik untuk di dalam gedung (indoor) pada lantai-lantai yang tinggi di sebuah gedung seringkali menjadi masalah yang sulit. Ada beberapa masalah yang menyebabkan kesulitan tersebut, yaitu penetrasi ke dalam bangunan. Biasanya di dalam gedung kuat sinyal yang diterima oleh pengguna telepon seluler tidak dapat diterima dengan baik, karena sinyal dari BTS diluar gedung mengalami redaman yang cukup besar dari dinding-dinding bangunan. Besarnya redaman tergantung kontruksi bangunan sehingga yang menjadi persoalan adalah bagaimana mendapatkan kualitas cakupan yang baik
Seiring dengan perkembangan teknologi telekomunikasi belakangan ini, seperti Code Division Multiple Access (CDMA), Third Generation (3G), dan

wireless Fidelity (Wifi) memaksa operator telekomunikasi di Indonesia untuk membangun jaringan baru tersebut untuk memenuhi kebutuhan pelanggan yang juga mengikuti perkembangan teknologi telekomunikasi yang menginginkan akses data yang cepat selain suara dan Short Message Services (SMS). Tetapi jika membangun baru jaringan tersebut maka biaya yang akan dikeluarkan sangat besar.
Maka solusi yang tepat untuk memenuhinya ialah dengan memanfaatkan jaringan infrastruktur seluler Global System for Mobile Communication (GSM) yang sudah ada, operator hanya perlu membagun BTS CDMA, dan BTS 3G saja untuk kemudian di integrasikan menjadi satu sistem jaringan tanpa harus membangun jaringan secara keseluruhan di dalam gedung seperti kabel-kabel feeder dan antena. Jadi inti dari sistem multi network ini adalah memanfaatkan sistem jaringan seluler yang sudah ada untuk kemudian digabungkan dengan sistem baru

Layanan telekomunikasi bergerak generasi ketiga dengan IMT-2000

Layanan komunikasi bergerak pada saat ini semakin lama dirasakan semakin bertambah Untuk dapat memenuhi tuntutan kebutuhan pengguna dimasa yang akan datang yang semakin berkembang, diperlukan sebuah standar global dalam bidang komunikasi bergerak. Saat ini spesifikasi dan standar bagi generasi ketiga dari teknologi wireless dikenal sebagai International Mobile Telecommunication-2000 (IMT-2000).
IMT-2000 yang akan memiliki bit rate 2 Mbps dan bekerja pada frekuensi 2 GHz nantinya diharapkan akan menjadi sistem yang dapat memenuhi layanan komunikasi bergerak pada tahun-tahun mendatang. Dalam Tugas Akhir ini akan dibahas mengenai keunggulan dan kekurangan sistem IMT-2000 dari sistem generasi kedua.

ABSTRACT
Nowadays the demands for wireless communication services is increasing rapidly. In order to fulfill the user’s needs in the future, a global standard protocol in wireless communication is required. Today the standard and specifications for the third generation of wireless communication is known as The International Mobile Telecommunication-2000 (IMT-2000).
The IMT-2000 which will have a 2 Mbps bit rate and operates on a 2 GHz frequency will be expected to become a system that is able to fulfill the wireless communication services for the upcoming years. This final thesis will discuss the advantages and disadvantages of the IMT-2000 system from the second generation.

BAB I
PENDAHULUAN

I.1. Latar Belakang Pemilihan Judul
Sekarang ini kebutuhan untuk berkomunikasi menjadi suatu hal yang sangat dibutuhkan bagi setiap orang. Kebutuhan akan pelayanan telekomunikasi akan semakin meningkat dikarenakan tuntutan kebutuhan pengguna dimasa depan yang semakin meningkat pula, namun yang pasti kebutuhan fasilitas suara masih merupakan kebutuhan yang utama bagi para pengguna jasa telekomunikasi.
Sistem komunikasi bergerak diyakini akan memegang peranan yang semakin penting dalam memenuhi kebutuhan telekomunikasi. Karena dengan sambungan telepon tanpa kabel (wireless) akan semakin mempermudah seseorang untuk berkomunikasi kapan saja dan dimana saja.
Untuk dapat memenuhi tuntutan kebutuhan pengguna dimasa yang akan datang yang semakin berkembang, diperlukan sebuah standar global dalam bidang komunikasi bergerak. Saat ini spesifikasi dan standar bagi generasi ketiga dari teknologi wireless dikenal sebagai International Mobile Telecommunication-2000 (IMT-2000).
Sebagai sistem komunikasi bergerak generasi ketiga (3G), kata “IMT-2000” memiliki tiga makna kata yang mengandung arti, yaitu: pertama, standar telekomunikasi bergerak ini akan diresmikan pada sekitar tahun 2000, yang kedua standar ini akan memiliki kecepatan 2000 Kbps atau 2Mbps, dan yang ketiga akan beroperasi pada frekuensi 2000 MHz. Kecepatan sebesar itu mutlak dibutuhkan di masa mendatang yang merupakan era multimedia.
IMT-2000 merupakan sistem komunikasi bergerak (mobile communication System) generasi ketiga (3G) yang dirancang untuk menyediakan layanan global, kapabilitas layanan yang beragam dan perbaikan performance secara signifikan. Teknologi ini akan mengintegrasikan pager, telepon selular, dan sistem komunikasi bergerak dengan satelit (mobile satellite system), selain itu diharapkan dengan IMT-2000 nanti pengguna akan dapat di akses secara global dengan nomor yang sama dimanapun di berada. Oleh karena itu, IMT-2000 dapat dikatakan sebagai dasar bagi akses komunikasi global yang terintegrasi